Monday, February 18, 2019

Zinc Oxide Penakluk UV


            Sinar matahari memancarkan energi yang sangat besar seperti radiasi ultraviolet (UV). Radiasi tersebut terdiri dari UVA dan UVB dimana dapat diserap oleh kulit manusia dan UVC yang sampai saat ini tidak bisa mencapai permukaan bumi karena terhalang lapisan ozon. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2013), Paparan sinar UV pada pukul 10 pagi hingga 4 sore mengakibatkan berbagai masalah pada kulit diantaranya :

1.      Penuaan dini dan Keriput
Paparan sinar matahari dalam jangka waktu yang panjang dapat menyebabkan perubahan pada kulit, yaitu dapat membuat kulit menjadi longgar, keriput serta kasar. Hampir 80% penuaan dini disebabakan oleh sinar matahari, karena UVA akan memecah struktur kolagen dan menurunkan kemampuan dalam regenerasi kulit.

2.      Luka Bakar
Paparan radiasi UVA, UVB, dan UVC yang berlebihan berpotensi merusak kulit seperti menimbulkan bercak merah dan luka bakar bahkan dapat menyebabkan bengkak, lecet, pengelupasan kulit hingga kanker.

3.      Bintik-Bintik
Bintik-bintik akibat sinar matahari tidak hanya akan terbentuk pada wajah, namun juga pada tangan, kaki, badan, dan lainnya. Bintik-bintik tersebut adalah melanin yang bertanggung jawab untuk melindungi kulit dari sinar ultraviolet. Melanin itu diproduksi dari gen bernama MC1R ( melanocortin-1 receptor ) yang bertanggung jawab membuat kulit berbintik, rambut berwarna merah, dan kulit berwana putih. Jika kulit tidak terlindungi, sinar ultraviolet dapat menyebabkan kanker, kulit yang terbakar, membahayakan sistem imun dan menuakan kulit.


4.      Warna Kulit Kecoklatan
Mendapati tubuh yang berubah warna hingga sangat kecokelatan, nyatanya ini tidaklah baik. Ini menjadi tanda bahwa kulit telah rusak. Kulit menghasilkan pigmen gelap yang menggelapkan kulit untuk melindungi diri dari sinar UV yang lebih banyak.

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1985), untuk melindungi kulit dari bahaya radiasi UVA dan UVB, sunblock atau tabir surya akan menghalangi penyerapan radiasi ke dalam permukaan kulit. Kandungan yang cukup dominan dalam sunblock adalah seng oksida (zinc oxide) dan titanium dioksida. Kedua zat aktif ini berfungsi sebagai tameng pada permukaan kulit. Biasanya tekstur sunblock terasa lebih pekat dari losion pada umumnya. Setelah membalur tubuh dengan sunblock, pada permukaan kulit akan terlihat lapisan berwarna putih. Lapisan inilah yang akan menangkal radiasi berbahaya. Sudahkan anda menggunakan sunblock ?

Referensi :
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1985. Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia




Saturday, December 1, 2018

Peptida dan Peptidomimetik


              Peptida merupakan molekul yang terbentuk dari dua atau lebih asam amino. Jika jumlah asam amino masih di bawah 50 molekul disebut peptida, namun jika lebih dari 50 molekul disebut dengan protein. Asam amino saling berikatan dengan ikatan peptida. Ikatan peptida terjadi jika atom nitrogen pada salah satu asam amino berikatan dengan gugus karboksil dari asam amino lain. Peptida terdapat pada setiap makhluk hidup dan berperan pada beberapa aktivitas biokimia. Peptida dapat berupa enzim, hormon, antibiotik , dan reseptor
Ikatan peptida adalah jenis ikatan kovalen yang hanya ditemukan dalam molekul protein. Ikatan ini menyatukan asam amino sama untuk menciptakan rantai peptida, yang kemudian bergabung bersama-sama untuk membentuk protein. Ikatan peptida terbentuk ketika atom karbon pada gugus karboksil suatu molekul berbagi elektron dengan atom nitrogen pada gugus amina molekul lainnya.
Reaksi pembentukan ikatan peptida antar asam amino dalam protein yang terjadi merupakan reaksi kondensasi, yang ditandai dengan lepasnya molekul air ketika reaksi berlangsung. Hasil dari ikatan ini merupakan ikatan CO-NH, dan menghasilkan molekul yang disebut amida. Semua protein terbuat dari rantai asam amino ikatan yang bersama-sama dalam cara yang sangat spesifik. Sebagian besar asam amino memiliki gugus karboksil tunggal (-COOH) di satu sisi dan gugus amino (NH2-) di sisi lain. Asam amino yang berdekatan dapat membentuk ikatan peptida ketika satu kelompok asam karboksil yang bergabung dengan gugus amino yang lain.
            Ikatan peptida dapat dirusak atau diputus dengan melakukan hidrolisis. Ikatan peptida terbentuk dari protein yang mempunyai kecenderungan untuk putus secara spontan ketika terdapat air. Dari hasil pemutusan tersebut, dilepaskan energi sebesar 10 kJ/mol. Namun, proses pemutusan terjadi sangat lambat. Pada umumnya, organisme menggunakan enzim untuk membantu proses pemutusan atau pembentukan ikatan peptida untuk mempercepat reaksi.
            Untuk memecahkan ikatan peptida, reaksi hidrolisis – kebalikan dari reaksi kondensasi – harus  terjadi. Reaksi hidrolisis terjadi ketika membelah protein menjadi rantai peptida, atau peptida menjadi asam amino tunggal. Dalam hidrolisis, molekul air ditambahkan ke ikatan peptida, menyebabkan air untuk membagi. Gugus hidroksil (OH-) menempel pada gugus karboksil satu asam amino, dan atom hidrogen (H) menempel pada gugus amino yang lain.
Peptida dapat digolongkan menurut kemiripan struktur dan fungsinya.
1.      Peptida Ribosomal
Peptida ribosomal disintesis dari translasi mRNA. Peptida ini berfungsi sebagai hormon dan molekul signal pada organisme tingkat tinggi. Secara umum, peptida ini mempunyai strukstur linear.
2.      Peptida non-Ribosomal
Peptida non-Ribosomal disintesis dengan kompleks enzim. Peptida ini terdapat pada organisme uniselulartanaman, dan fungi. Pada peptida ini terdapat struktur inti yang kompleks dan mengandung pengaturan yang berbeda-beda untuk melakukan manipulasi kimia untuk menghasilkan suatu produk. Secara umum, peptida ini berbentuk siklik, walaupun ada juga yang berbentuk linear.
3.       Peptida Hasil Digesti (Digested peptides)
 Peptida ini terbentuk dari hasil proteolisis non-spesifik dalam siklus digesti. Peptida hasil digesti secara umum merupakan peptida ribosomal, akan tetapi tidak dibentuk dari translasi mRNA. Peptida ini juga dapat dibentuk dari protein [yang didigesti dengan proteasespesifik, seperti digesti trypsin yang sering dilakukan sebelum mass spectrometry peptide analysis.
            Peptidomimetik adalah rantai kecil seperti protein yang dirancang untuk meniru peptida. Peptida yang disebut Adipotide telah dikembangkan oleh para peneliti AS dalam perang melawan obesitas. Perlakuan eksperimental ini telah mengurangi sebanyak 11% berat monyet yang diobati dengan mengurangi jaringan lemak, BMI, dan lingkar pinggang.
Pertanyaan :
1.      Bagaimana reaksi pembentukan ikatan peptida ?
2.      Bagaimana penggolongan dari peptida ?
3.      Bagaimana proses rusaknya/putusnya ikatan peptida ?

Aterosklerosis Dan Antihiperlipidemia


A.    ATEROSKEROSIS

Aterosklerosis juga dikenal sebagai penyakit Vaskuler arteriosclerotic atau ASVD berasaldari bahasa Yunani: athero (yang berarti bubur atau pasta) dan sklerosis (indurasi dan pengerasan ). 
Aterosklerosis atau pengerasan arteri adalah suatu keadaan arteri besar dan kecil yang ditandai oleh deposit substansi berupa endapan lemak, trombosit, makrofag, leukosit,kolesterol, produk sampah seluler, kalsium dan berbagai substansi lainnya yang terbentuk didalam lapisan arteri di seluruh lapisan tunika intima dan akhirnya ke tunikamedia.
Aterosklerosis merupakan proses yang berbeda  yang menyerang intima arteri besar dan medium. Perubahan tersebut meliputi penimbunan lemak, kalsium. komponen darah, karbohidratdan jaringan fibrosa pada lapisan intima arteri. Penimbunan tersebut dikenal sebagai aleromaatau plak. Karena aterosklerosis merupakan pe¬nyakit arteri umum, maka bila kitamenjumpainya di ekstremitas, maka penyakit tersebut juga terdapat di bagian tubuh yang lain.(Brunner & Suddarth, 2002).
Aterosklerosis sangat dipengaruhi kadar kolesterol yang tinggi (khususnya LDL), merokok, tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, obesitas, dan kurangnya aktifitas fisik. Tingginya kadar homosistein darah, fibrinogen, dan lipoprotein-A juga dilaporkan sebagai faktor risiko terjadinya aterosklerosis. Ada 4 faktor risiko biologis yang tidak dapat diubah, yaitu usia, jenis kelamin, ras, dan riwayat keluarga (genetik).Helicobacter Pylori dan Chlamydia Pneumoniae, juga bisa menimbulkan infeksi atau transformasi miosit atau endotel, yang akan memicu lesi aterosklerosis.
Aterosklerosis bermula ketika sel darah putih yang disebut monosit, pindah dari alirandarah ke dalam dinding arteri dan diubah menjadi sel-sel yang mengumpulkan bahan-bahanlemak. Pada saatnya, monosit yang terisi lemak ini akan terkumpul, menyebabkan bercak penebalan di lapisan dalam arteri.Setiap daerah penebalan yang biasa disebut plak aterosklerotik atau ateroma, terisidengan bahan lembut seperti keju yang mengandung sejumlah bahan lemak, terutama kolesterol,sel-sel otot polos dan sel-sel jaringan ikat. Ateroma bisa tersebar di dalam arteri sedang dan jugaarteri besar, tetapi biasanya mereka terbentuk di daerah percabangan, mungkin karena turbulensidi daerah ini menyebabkan cedera pada dinding arteri, sehingga disini lebih mudah terbentukateroma.Arteri yang terkena aterosklerosis akan kehilangan kelenturannya dan karena ateromaterus tumbuh, maka arteri akan menyempit. Lama-lama ateroma mengumpulkan endapankalsium, sehingga ateroma menjadi rapuh dan bisa pecah. Dan kemudian darah bisa masuk kedalam ateroma yang telah pecah, sehingga ateroma akan menjadi lebih besar dan lebih mempersempit arteri(emboli).
B.     ANTIHIPERLIPIDEMIA
Hiperlipidemia adalah suatu kondisi  kadar lipid darah yang melebihi kadar normalnya. Hiperlipidemia disebut juga peningkatan lemak dalam darah dan karena sering disertai peningkatan beberapa fraksi lipoprotein, disebut juga hiperlipoproteinemia. Hiperlipidemik dapat berupa hiperkolesterolemia dan hipertrigliseridemia
Lemak (disebut juga lipid) adalah zat yang kaya energi, yang berfungsi sebagai sumber energi utama untuk proses metabolisme tubuh. Lemak diperoleh dari makanan atau dibentuk di dalam tubuh, terutama di hati dan bisa disimpan di dalam sel-sel lemak untuk digunakan di kemudian hari. Sel-sel lemak juga melindungi tubuh dari dingin dan membantu melindungi tubuh terhadap cedera. Lemak merupakan komponen penting dari selaput sel, selubung saraf yang membungkus sel-sel saraf serta empedu. Dua lemak utama dalam darah adalah kolesterol dan trigliserida. Lemak mengikat dirinya pada protein tertentu sehingga bisa larut dalam darah; gabungan antara lemak dan protein ini disebut lipoprotein. Lipoprotein yang utama adalah :
1.         Kilomikron
2.         VLDL(Very Low Density Lipoproteins)
3.         LDL (Low Density Lipoproteins)
4.         HDL(High Density Lipoproteins)
Obat antihiperlipidemia merupakan obat yang digunakan untuk dislipidemia (misalnya dengan cara mengurangi level lemak pada darah). Secara menyeluruh, biasanya obat-obat ini menurunkan jumlah kolesterol dan LDL (low density lipoprotein) dalam darah dan meningkatkan HDL (high density lipoprotein). Beberapa obat yang termasuk di dalamnya antara lain statin (yang lebih dikenal sebagai HMG-CoA (Hydroxymethylglutaryl-coenzim A) reductase inhibitor), fibrat, ezetimib, bile-acid binding resin (resin pengikat asam empedu, misalnya colestipol, colestyramine) dan asam nikotinat (niacin).
Gejala Hiperlipidemia
·         Sakit dada
·         Jantung berdebar
·         Berkeringat
·         Cemas
·         Nafas pendek
·         Hilangnya kesadaran atau kesulitan berbicara atau bergerak
·         Sakit abdominal
·         Kematian mendadak
Pertanyaan :
1.      Bagaimana upaya pengobatan aterosklerosis ?
2.      Apa contoh obat aterisklerosis dan bagaimana mekanisme obat tsb ?
3.      Bagaimana mekanisme kerja obat antihiperlipidemia

Identifikasi Farmakofor


    Farmakofor adalah susunan tiga dimensi dari atom dalam molekul obat yang memungkinkan untuk berikatan dengan reseptor yang diinginkannya dan bertanggung jawab dengan respon biologis karena terikat dengan reseptor yang dikehendakinya.

    Fungsi identifikasi farmakofor :
1.   Gugus molekul yang akan berikatan dengan reseptor
2.   Menentukan posisi relatif dalam 3D ikatan obat dengan reseptor
3.   Komformasi aktif dari molekul obat
4.   Penting untuk mendesain
5.   Dasar penting untuk menentukan obat baru

    Farmakofor adalah konfigurasi spesial fitur penting yang memungkinkan molekul ligan untuk berinteraksi dengan reseptor target tertentu. Dengan tidak adanya struktur reseptor dikenal, farmakofor dapat diidentifikasi dari suatu sel ligan yang telah diamati untuk berintraksi dengan reseptor sasaran. Sebuah farmakofor diidentifikasi sebagai susunan 3D fitur yang sangat penting untuk molekul ligan untuk berinteraksi dengan reseptor target dalam situs pengikatan tertentu. Setelah diidentifikasi, farmakofor dapat berfungsi sebagai model penting untuk screening virtual, terutama dalam kasus dimana struktur 3D dari reseptor tidak diketahui dan teknik yang tidak berlaku.

    Ada beberapa ikatan yang dapat di identifikasi berdasarkan struktur 3 dimensi suatu molekul yaitu : 

A. Ikatan Kovalen
Ikatan kovalen terbentuk bila ada dua atom saling menggunakan sepasang elektron secara bersama-sama. Ikatan kovalen merupakan ikatan kimia yang paling kuat dengan rata-rata kekuatan ikatan 1000 kkal/mol. Dengan kekuatan ikatan yang tinggi ini, pada suhu normal ikatan bersifat ireversibel dan hanya dapat pecah bila ada pengaruh katalisator enzim tertentu. Interaksi obat-katalisator melalui ikatan kovalen menghasilkan kompleks yang cukup stabil dan sifat ini dapat digunakan untuk tujuan pengobatan tertentu.

B. Ikatan Ion
Ikatan ion adalah ikatan yag dihasilkan oleh daya tarik menarik elektrostatik antara ion-ion yang muatannya berlawanan. Kekuatan tarik-menarik akan makin berkurang bila jarak antar ion makin jauh dan pengurangan tersebut berbanding terbalik dengan jaraknya.
C.  Ikatan Hidrogen
Ikatan hidrogen adalah suatu ikatan antara atom H yang mempunyai muatan positif parsial dengan atom lain yang bersifat elektronegatif dan mempunyai sepasang elektron bebas dengan oktet lengkap seperti O, N, F. Atom yang bermuatan positif parsial dapat berinteraksi dengan atom negatif parsial dari molekul atau atom lain yang berbeda ikatan kovalennya dalam satu molekul.
Semakin besar ikatan hidrogennya, semakin tinggi titik didihnya. Namun, khusus pada air (H2O), terjadi dua ikatan hidrogen pada tiap molekulnya. Akibatnya jumlah total ikatan hidrogennya lebih besar daripada asam florida (HF) yang seharusnya memiliki ikatan hidrogen terbesar (karena paling tinggi perbedaan elektronegativitasnya) sehingga titik didih air lebih tinggi daripada asam florida.
Contoh : H20
D. Ikatan Van Der Waal’s
Ikatan van der waal’s merupakan kekuatan tarik-menarik antar molekul atau atom yang tidak bermuatan dan letaknya berdekatan atau jaraknya ± 4-6 Å. Ikatan ini terjadi karena sifat kepolarisasian molekul atau atom. Meskipun secara individu lemah tetapi hasil penjumlahan ikatan van del waal’s merupakan faktor pengikat yang cukup bermakna terutama untuk senyawa-senyawa yang mempunyai berat molekul tinggi. Ikatan van der waal’s terlibat pada interaksi cincin benzen dengan daerah bidang datar reseptor dan pada interaksi rantai hidrokarbon dengan makromolekul protein atau reseptor.
Reseptor obat adalah suatu makromolekul jaringan sel hidup, mengandung gugus fungsional atau atom-atom terorganisasi, reaktif secara kimia dan bersifat spesifik, dapat berinteraksi secara reversibel dengan molekul obat yang mengandung gugus fungsional spesifik, menghasilkan respons biologis yang spesifik pula.

Interaksi obat-reseptor terjadi melalui dua tahap, yaitu:
a.  Interaksi molekul obat dengan reseptor spesifik
     Interaksi ini memerlukan afinitas
b.  Interaksi yang dapat menyebabkan perubahan konformasi makromolekul protein sehingga timbul respons biologis.

Respons biologis yang terjadi setelah pengikatan obat-reseptor dapat merupakan:
1.  Rangsangan aktivitas (efek agonis)
2.  Pengurangan aktivitas (efek antagonis)

Modifikasi interaksi obat-reseptor ada dua tahap, yaitu:
1.  Pembentukan kompleks obat-reseptor
2.   Menghasilkan respons biologis

Tipe ikatan kimia yang terlibat dalam interaksi obat reseptor antara lain adalah ikatan-ikatan kovalen, ion-ion yang saling memperkuat (reinforce ions), ion (elektrostatik), hidrogen, ion-dipol, dipol-dipol, van der Waal’s, ikatan hidrofob dan transfer muatan.


Pertanyaan :
1. Apakah hubungan farmakofor dengan aktivitas obat ?
2. Apa akibat yang ditimbulkan jika salah satu struktur obat diganti ?
3. Apa hubungan antara reseptor obat dengan farmakofor ?


Friday, November 23, 2018

RAPID :Randomized Pharmacophore Identification for Drug Design



Dalam suatu bidang kefarmasian, tentu saja tidak asing mendengar istilah obat. Obat-obatan seiring dengan perkembangan zaman perlu dikembangkan karena semakin banyak model penyakit-penyakit baru yang timbulnya. Sehingga perlu dilakukan modifikasi atau pengembangan dari obat yang lama. Salah satu metode yang dapat digunakan dan yang paling umum diketahui adalah melihat model farmakofor. Tujuan melihat farmakofor adalah adanya interaksi penting antara protein dan ligan.

Metode farmakofor melakukan pencarian bagian mana yang berperan dalam senyawa tersebut. Berperan di sini maksudnya berperan dalam bereaksi dengan reseptor. Jika diandaikan sebuah senyawa  seperti tubuh manusia, maka akan dicari bagian mana yang akan mampu berinteraksi dengan orang lain. Misalkan tangan untuk salaman. Maka bagian tangan inilah yang nantinya akan dijadikan titik utama dalam simulasi. Bagian yang dianggap memiliki peran dalam interaksi ini harus memiliki beberapa kesamaan dengan reseptor. Seperti sifat fisikokimia, seperti sifat elektronik, hidrofobik dan sterik. Sama halnya denga mencari pasangan, pasti kita akan mencari beberapa kesamaan dengan pasangan kita. Entah itu hobi atau kesukaan makanan. Bukan mencari perbedaan yang malah akan semakin jauh dari harapan cinta, ceileee, hihi. Nah itulah prinsip dari metode farmakofor.

Salah satu metode farmakofor yaitu metode ligand-based pharmacophore modelling yaitu dengan cara mengimpit atau  menggabungkan molekul aktif pada obat dan menggali ikatan kimia yang penting untuik aktivitasnya. Metode structure-based-pharmacophore designi  dapat dilakukan dengan cara melihat interaksi antara target atau reseptor dengan makromolekul ligannya. Pada metode structure-based pharmacophore design,  dalam hal untuk pemodelan farmakofor, tahap selanjutnya yaitu diskrining secara virtual. Metode ini bertujuan agar mendapatkan kandidat obat yang aktif sehingga dapat dijadikan dasar dalam pengujian aktivitas yang lebih lanjut. Selanjutnya, setelah itu dapat dilihat melalui aplikasi Ligand Scout yang akan memberikan hasil berupa basis kompleks antara ligand an makromolekul. Metode structure-based pharmacophore design sendiri dibagi menjadi 2 sub kategori, yaitu berbasis kompleks ligan dan makromolekul serta berbasis makromolekul (tanpa ligan) (Yang, 2011).

Kemudian, model-model farmakofor dilakukan dengan cara menggabungkan atau mengiriskan model farmakofor tersebut. Kemudian farmakofor tersebut diskrining terhadap moolekul senyawa yang aktif maupun yang tidak aktif. Selanjutnya parameter yang digunakanya itu melihat nilai dari kurva Receiving Operating Characteristic (ROC) dan pharmacophore fit score.

Berikut ini penjelasan parameternya adalah sebagai berikut :
1.  Kurva ROC berupa grafik dan kurva yang digunakan untuk mengecek validitas terhadap model farmakofor. Kurva ROC menunjukkan nilai dari selektivitas dan spesifisitas dari model farmakofor terhadap kemampuan dalam memilih senyawa aktif dan kemampuan untuk menyingkirkan senyawa tidak aktif.
2.  Pharmacophore fit score yaitu dengan melihat nilai fit Value dari molekul yang telah diskrining terhadap model farmakofor yang kemudian akan diurutkan berdasarkan nilai fit Value-nya.


Identifikasi Farmakofor
1.  Mendefinisikan kelompok-kelompok penting yang terlibat dalam pengikatan
2.  Mendefinisikan posisi relatif dari kelompok pengikat
3.  Perlu diketahui konformasi aktif
4.  Penting untuk desain obat

5. Penting untuk penemuan obat

Proses pengembangan model farmakofor umumnya melibatkan langkah-langkah berikut:
1.  Pilih satu set ligan pelatihan - Pilihlah kumpulan molekul yang beragam secara struktural yang akan digunakan untuk mengembangkan model farmakofor. Sebagai model farmakofor harus dapat membedakan antara molekul dengan dan tanpa bioaktivitas, himpunan molekul harus mencakup senyawa aktif dan tidak aktif.
2.  Analisis konformasional - Buat satu set konformasi energi rendah yang cenderung mengandung konformasi bioaktif untuk masing-masing molekul yang dipilih.
3.  Superimposisi molekul - Superimpose ("fit") semua kombinasi konformasi energi rendah dari molekul. Kelompok fungsional serupa (bioisosterik) yang umum untuk semua molekul dalam himpunan dapat dipasang (misal : Cincin fenil atau gugus asam karboksilat). Himpunan konformasi (satu konformasi dari masing-masing molekul aktif) yang menghasilkan kecocokan terbaik dianggap sebagai konformasi aktif.
4.  Abstraksi - Transformasi molekul yang dilapiskan menjadi representasi abstrak. Sebagai contoh, cincin fenil yang dilapiskan dapat disebut secara lebih konseptual sebagai elemen 'batang aromatik' farmakofor. Demikian juga, gugus hidroksi dapat ditunjuk sebagai elemen farmakofor donor / akseptor hidrogen-ikatan.
5.  Validasi - Model farmakofor adalah hipotesis yang menghitung aktivitas biologis yang diamati dari sekumpulan molekul yang mengikat target biologis yang sama. Model ini hanya berlaku sejauh ia mampu menjelaskan perbedaan aktivitas biologis dari berbagai molekul.

Referensi
Yang., P., Liu H.-C., Chen Y.-D., Yuan H.-L., Sun S.-L., Gao Y.-P., Yang P., Zhang L., Lu T., and Lu S. 2011. Combined Pharmacophore Modeling, Docking, and 3DQSAR Studies of PLK1 Inhibitors, Int. J. Mol. Sci.12, 8713-8739

     Pertanyaan :

1.  Apakah terdapat metode lain untuk mengembangkan suatu obat selain farmakofor?

2.  Bagaimana cara mendesain suatu obat baru dari suatu senyawa yang sudah di ketahui kegunaanya?

3.  kelebihan dan kekurangan farmakofor ?
4.  Bagaimana menentukan site target suatu farmakofor obat?