Dalam suatu bidang kefarmasian,
tentu saja tidak asing mendengar istilah obat. Obat-obatan seiring dengan
perkembangan zaman perlu dikembangkan karena semakin banyak model
penyakit-penyakit baru yang timbulnya. Sehingga perlu dilakukan modifikasi atau
pengembangan dari obat yang lama. Salah satu metode yang dapat digunakan dan
yang paling umum diketahui adalah melihat model farmakofor. Tujuan melihat
farmakofor adalah adanya interaksi penting antara protein dan ligan.
Metode farmakofor melakukan pencarian bagian
mana yang berperan dalam senyawa tersebut. Berperan di sini maksudnya berperan
dalam bereaksi dengan reseptor. Jika diandaikan sebuah senyawa seperti
tubuh manusia, maka akan dicari bagian mana yang akan mampu berinteraksi dengan
orang lain. Misalkan tangan untuk salaman. Maka bagian tangan inilah yang
nantinya akan dijadikan titik utama dalam simulasi. Bagian yang dianggap memiliki
peran dalam interaksi ini harus memiliki beberapa kesamaan dengan reseptor.
Seperti sifat fisikokimia, seperti sifat elektronik, hidrofobik dan sterik.
Sama halnya denga mencari pasangan, pasti kita akan mencari beberapa kesamaan
dengan pasangan kita. Entah itu hobi atau kesukaan makanan. Bukan mencari
perbedaan yang malah akan semakin jauh dari harapan cinta, ceileee, hihi. Nah
itulah prinsip dari metode farmakofor.
Salah satu metode farmakofor
yaitu metode ligand-based pharmacophore modelling yaitu dengan
cara mengimpit atau menggabungkan
molekul aktif pada obat dan menggali ikatan kimia yang penting untuik
aktivitasnya. Metode structure-based-pharmacophore designi dapat
dilakukan dengan cara melihat interaksi antara target atau reseptor dengan
makromolekul ligannya. Pada metode structure-based pharmacophore
design, dalam hal untuk pemodelan farmakofor, tahap
selanjutnya yaitu diskrining secara virtual. Metode ini bertujuan agar
mendapatkan kandidat obat yang aktif sehingga dapat dijadikan dasar
dalam pengujian aktivitas yang lebih lanjut. Selanjutnya, setelah
itu dapat dilihat melalui aplikasi Ligand Scout yang akan
memberikan hasil berupa basis kompleks antara ligand an makromolekul.
Metode structure-based pharmacophore design sendiri dibagi
menjadi 2 sub kategori, yaitu berbasis kompleks ligan dan makromolekul serta
berbasis makromolekul (tanpa ligan) (Yang, 2011).
Kemudian, model-model farmakofor
dilakukan dengan cara menggabungkan atau mengiriskan model farmakofor tersebut.
Kemudian farmakofor tersebut diskrining terhadap moolekul senyawa yang aktif
maupun yang tidak aktif. Selanjutnya parameter yang digunakanya itu melihat nilai
dari kurva Receiving Operating Characteristic (ROC) dan pharmacophore
fit score.
Berikut ini penjelasan parameternya
adalah sebagai berikut :
1. Kurva ROC
berupa grafik dan kurva yang digunakan untuk mengecek validitas terhadap model
farmakofor. Kurva ROC menunjukkan nilai dari selektivitas dan spesifisitas dari
model farmakofor terhadap kemampuan dalam memilih senyawa aktif dan kemampuan
untuk menyingkirkan senyawa tidak aktif.
2. Pharmacophore fit score yaitu dengan melihat nilai fit Value dari
molekul yang telah diskrining terhadap model farmakofor yang
kemudian akan diurutkan berdasarkan nilai fit Value-nya.
Identifikasi Farmakofor
1. Mendefinisikan kelompok-kelompok penting yang terlibat dalam pengikatan
2. Mendefinisikan posisi relatif dari kelompok pengikat
3. Perlu diketahui konformasi aktif
4. Penting untuk desain obat
5. Penting untuk penemuan obat
Proses pengembangan model farmakofor
umumnya melibatkan langkah-langkah berikut:
1. Pilih satu set ligan pelatihan - Pilihlah kumpulan molekul yang beragam
secara struktural yang akan digunakan untuk mengembangkan model farmakofor.
Sebagai model farmakofor harus dapat membedakan antara molekul dengan dan tanpa
bioaktivitas, himpunan molekul harus mencakup senyawa aktif dan tidak aktif.
2. Analisis konformasional - Buat satu set konformasi energi rendah yang
cenderung mengandung konformasi bioaktif untuk masing-masing molekul yang
dipilih.
3. Superimposisi molekul - Superimpose ("fit") semua kombinasi
konformasi energi rendah dari molekul. Kelompok fungsional serupa
(bioisosterik) yang umum untuk semua molekul dalam himpunan dapat dipasang
(misal : Cincin fenil atau gugus asam karboksilat). Himpunan konformasi (satu
konformasi dari masing-masing molekul aktif) yang menghasilkan kecocokan
terbaik dianggap sebagai konformasi aktif.
4. Abstraksi - Transformasi molekul yang dilapiskan menjadi representasi
abstrak. Sebagai contoh, cincin fenil yang dilapiskan dapat disebut secara
lebih konseptual sebagai elemen 'batang aromatik' farmakofor. Demikian juga,
gugus hidroksi dapat ditunjuk sebagai elemen farmakofor donor / akseptor
hidrogen-ikatan.
5. Validasi - Model farmakofor adalah hipotesis yang menghitung aktivitas
biologis yang diamati dari sekumpulan molekul yang mengikat target biologis
yang sama. Model ini hanya berlaku sejauh ia mampu menjelaskan perbedaan
aktivitas biologis dari berbagai molekul.
Referensi
Yang., P., Liu H.-C., Chen Y.-D., Yuan H.-L., Sun S.-L., Gao Y.-P., Yang
P., Zhang L., Lu T., and Lu S. 2011. Combined Pharmacophore Modeling, Docking,
and 3DQSAR Studies of PLK1 Inhibitors, Int. J. Mol. Sci., 12, 8713-8739
Pertanyaan :
1.
Apakah
terdapat metode lain untuk mengembangkan suatu obat selain farmakofor?
2. Bagaimana cara mendesain suatu obat baru dari suatu senyawa yang sudah di
ketahui kegunaanya?
3. kelebihan dan kekurangan farmakofor ?
4. Bagaimana menentukan site target suatu farmakofor obat?