Farmakofor adalah susunan tiga dimensi dari atom dalam
molekul obat yang memungkinkan untuk berikatan dengan reseptor yang
diinginkannya dan bertanggung jawab dengan respon biologis karena terikat
dengan reseptor yang dikehendakinya.
Fungsi identifikasi farmakofor :
1. Gugus molekul yang akan berikatan
dengan reseptor
2. Menentukan posisi relatif dalam 3D
ikatan obat dengan reseptor
3. Komformasi aktif dari molekul obat
4. Penting untuk mendesain
5. Dasar penting untuk menentukan obat
baru
Farmakofor adalah konfigurasi spesial fitur penting
yang memungkinkan molekul ligan untuk berinteraksi dengan reseptor target
tertentu. Dengan tidak adanya struktur reseptor dikenal, farmakofor dapat
diidentifikasi dari suatu sel ligan yang telah diamati untuk berintraksi dengan
reseptor sasaran. Sebuah farmakofor diidentifikasi sebagai susunan 3D fitur
yang sangat penting untuk molekul ligan untuk berinteraksi dengan reseptor
target dalam situs pengikatan tertentu. Setelah diidentifikasi, farmakofor
dapat berfungsi sebagai model penting untuk screening virtual, terutama dalam
kasus dimana struktur 3D dari reseptor tidak diketahui dan teknik yang tidak
berlaku.
Ada beberapa ikatan
yang dapat di identifikasi berdasarkan struktur 3 dimensi suatu molekul yaitu
:
A. Ikatan Kovalen
Ikatan kovalen
terbentuk bila ada dua atom saling menggunakan sepasang elektron secara
bersama-sama. Ikatan kovalen merupakan ikatan kimia yang paling kuat dengan
rata-rata kekuatan ikatan 1000 kkal/mol. Dengan kekuatan ikatan yang tinggi
ini, pada suhu normal ikatan bersifat ireversibel dan hanya dapat pecah bila
ada pengaruh katalisator enzim tertentu. Interaksi obat-katalisator melalui
ikatan kovalen menghasilkan kompleks yang cukup stabil dan sifat ini dapat
digunakan untuk tujuan pengobatan tertentu.
B. Ikatan Ion
Ikatan ion adalah ikatan yag dihasilkan oleh daya
tarik menarik elektrostatik antara ion-ion yang muatannya berlawanan. Kekuatan
tarik-menarik akan makin berkurang bila jarak antar ion makin jauh dan
pengurangan tersebut berbanding terbalik dengan jaraknya.
C. Ikatan Hidrogen
Ikatan hidrogen adalah suatu ikatan antara atom H yang
mempunyai muatan positif parsial dengan atom lain yang bersifat elektronegatif
dan mempunyai sepasang elektron bebas dengan oktet lengkap seperti O, N, F.
Atom yang bermuatan positif parsial dapat berinteraksi dengan atom negatif
parsial dari molekul atau atom lain yang berbeda ikatan kovalennya dalam satu
molekul.
Semakin besar ikatan
hidrogennya, semakin tinggi titik didihnya. Namun, khusus pada air (H2O),
terjadi dua ikatan hidrogen pada tiap molekulnya. Akibatnya jumlah total ikatan
hidrogennya lebih besar daripada asam florida (HF) yang seharusnya memiliki
ikatan hidrogen terbesar (karena paling tinggi perbedaan elektronegativitasnya)
sehingga titik didih air lebih tinggi daripada asam florida.
Contoh : H20
D. Ikatan Van Der Waal’s
Ikatan van der waal’s merupakan kekuatan tarik-menarik
antar molekul atau atom yang tidak bermuatan dan letaknya berdekatan atau
jaraknya ± 4-6 Å. Ikatan ini terjadi karena sifat kepolarisasian molekul atau
atom. Meskipun secara individu lemah tetapi hasil penjumlahan ikatan van del
waal’s merupakan faktor pengikat yang cukup bermakna terutama untuk
senyawa-senyawa yang mempunyai berat molekul tinggi. Ikatan van der waal’s
terlibat pada interaksi cincin benzen dengan daerah bidang datar reseptor dan
pada interaksi rantai hidrokarbon dengan makromolekul protein atau reseptor.
Reseptor obat adalah
suatu makromolekul jaringan sel hidup, mengandung gugus fungsional atau
atom-atom terorganisasi, reaktif secara kimia dan bersifat spesifik, dapat
berinteraksi secara reversibel dengan molekul obat yang mengandung gugus
fungsional spesifik, menghasilkan respons biologis yang spesifik pula.
Interaksi obat-reseptor
terjadi melalui dua tahap, yaitu:
a. Interaksi
molekul obat dengan reseptor spesifik
Interaksi
ini memerlukan afinitas
b. Interaksi yang dapat menyebabkan perubahan konformasi
makromolekul protein sehingga timbul respons biologis.
Respons biologis yang
terjadi setelah pengikatan obat-reseptor dapat merupakan:
1. Rangsangan
aktivitas (efek agonis)
2. Pengurangan
aktivitas (efek antagonis)
Modifikasi interaksi
obat-reseptor ada dua tahap, yaitu:
1. Pembentukan
kompleks obat-reseptor
2. Menghasilkan
respons biologis
Tipe ikatan kimia yang
terlibat dalam interaksi obat reseptor antara lain adalah ikatan-ikatan
kovalen, ion-ion yang saling memperkuat (reinforce ions), ion
(elektrostatik), hidrogen, ion-dipol, dipol-dipol, van der Waal’s, ikatan
hidrofob dan transfer muatan.
Pertanyaan :
1.
Apakah hubungan farmakofor dengan aktivitas obat ?
2.
Apa akibat yang ditimbulkan jika salah satu struktur obat diganti ?
3.
Apa hubungan antara reseptor obat dengan farmakofor ?
Hai eugenia dimana farmkofor adalah suatu ligan untuk mengindentifikasi suatu molekul kecil yang dimana ligan tersebut akan berikatan dg reseptorvsehingga dapat memicu pada sel target
ReplyDeletehai.. artikelnya sangat bermanfaat sekali. terimakasih :)
ReplyDeleteHai eugenia dimana farmkofor adalah suatu ligan untuk mengindentifikasi suatu molekul kecil yang dimana ligan tersebut akan berikatan dg reseptorvsehingga dapat memicu pada sel target
ReplyDeletehubunganya krena farmakopor sangat berpengaruh ddalm aktivitas itu sangat penting untuk menentukan sebuah obat
ReplyDeleteHai eugen pemaparan yang sangat baik
ReplyDeleteHai Eugen. Artikel yang bermanfaat. Terimakasih :)
ReplyDeletehy eugen artikel anda sangat ,membantu saya
ReplyDeleteterimakasih
Haii eugenia, pemaparan materi yg mudah di pahamin, shga sy bsa menjawab tgs2 sy,
ReplyDeleteTerimaksih yaa